Dasar Hukum Menggugat Developer Nakal

Permasalahan dengan developer properti kerap menjadi hal yang memusingkan bagi konsumen. Misalnya tentang material bangunan yang tidak sesuai perjanjian, molor atau mangkraknya pembangunan, atau yang paling parah adalah developer membawa kabur uang konsumen.

Terus, apa yang bisa dilakukan konsumen jika mengalami kejadian tersebut?
Menurut Konsultan Hukum, Reza Krisna Adi Praya, ada dua cara untuk menyelesaikan kasus seperti ini. Yakni melalui jalur hukum perdata dan pidana. Jika konsumen menginginkan uangnya kembali (kemungkinan tidak 100%), maka jalur perdata bisa dilakukan. Konsumen terlebih dulu memberi somasi kepada pengembang, lalu mengajukan kasus ini ke Pengadilan Negeri setempat.

SOMASI

Somasi adalah sebuah teguran terhadap pihak calon tergugat pada proses hukum. Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada pihak calon tergugat untuk berbuat sesuatu atau menghentikan suatu perbuatan sebagaimana tuntutan pihak penggugat. Cara ini efektif untuk menyelesaikan sengketa sebelum perkara diajukan ke pengadilan.

Somasi juga diatur dalam Pasal 1238 KUHPer yang menyatakan:
“Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yg ditentukan.”

Sedangkan untuk jalur hukum pidana, konsumen bisa mengadukan hal ini ke kantor kepolisian dengan tuduhan penipuan. Konsumen harus mengumpulkan bukti-bukti tertulis yang akurat, dan jadikan salah satu staf developer sebagai saksi dari kasus ini. Namun sayangnya, penyelesaian hukum pidana kerap mengalami banyak kendala dan jarang memberikan hasil yang memuaskan.

PIDANA

Secara pidana, konsumen dapat melaporkan developer dengan tuduhan melanggar Pasal 8 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (“UU Konsumen”).

Pasal ini berbunyi, “Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut.”

Misalnya konsumen menggugat developer yang tidak membangun properti sesuai ketentuan dan spesifikasi bangunan yang terdapat dalam brosur, dengan gugatan atas dasar wanprestasi.

DENDA

Berapa Denda yang Diberikan?
Developer yang melanggar ketentuan tersebut dapat terancam sanksi pidana paling lama 5 tahun atau denda maksimal Rp. 2 miliar. Ancaman sanksi ini termuat dalam Pasal 62 UU Konsumen.
Selain itu juga diatur dalam Pasal 134 jo Pasal 151 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (“UU Perumahan”), yakni denda maksimal Rp. 5 miliar.

Selain sanksi berupa denda, developer juga dapat dijatuhi sanksi administratif sebagaimana terdapat dalam Pasal 150 UU Perumahan. Sanksinya mulai dari peringatan tertulis, pencabutan izin usaha, hingga penutupan lokasi.

TELITI

Anda mencari developer properti syariah yang kredibel?

Silahkan kunjungi Amanah Realty. Kami akan menjadi partner Anda dalam transaksi properti yang menguntungkan dan sesuai syariah.

Puasa Syawal Sebaiknya Tidak Di Pekan Pertama?

Dishare Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja

Puasa Syawwal sebaiknya tidak di pekan pertama?


Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi -hafizhohulloh- mengatakan:

Lebih Afdholnya… hendaknya seseorang menjadikan hari-hari iednya untuk kebahagiaan dan kesenangan (dengan tidak berpuasa).

Oleh karena itu, telah valid dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau mengatakan untuk hari-hari (tasyriq) di Mina: ‘itu adalah hari-hari makan dan minum… maka janganlah kalian berpuasa di dalamnya”.

Apabila hari-hari Mina yang tiga, karena dekat dengan hari Idul Adha mengambil hukum ini, tentunya hari-hari Idul Fitri tidak jauh keadaannya dari hukum ini…

Oleh karena itulah, kamu dapati orang-orang akan menjadi ‘tidak enak’ apabila mereka diziarahi oleh seseorang di hari raya, lalu dia menolak hidangan yang disuguhkan dan mengatakan ‘aku sedang berpuasa’, sebaliknya mereka senang bila hidangan itu dinikmati tamunya.

Dan telah datang keterangan dari Nabi – ‘alaihis sholatu wassalam – bahwa ketika beliau diundang oleh seorang sahabatnya dari kalangan Anshor untuk menikmati hidangan bersama sebagian sahabatnya, lalu ada sahabatnya yang menjauh dan mengatakan: ‘ sungguh aku sedang berpuasa (sunnah) ’.

Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: ‘Sungguh saudaramu telah bersusah payah untukmu, jadi BATALKAN puasamu dan berpuasalah di hari lainnya’.

Ketika tamu masuk pada hari-hari ied, terutama hari kedua dan ketiga, tentu seseorang akan senang dan lega ketika melihat tamunya menikmati hidangannya. Jadi, keadaan seseorang bersegera untuk berpuasa pada hari kedua dan ketiga, ini perlu ditinjau lagi.

Sehingga lebih afdhol dan lebih sempurna bila seseorang menyenangkan perasaan orang lain (dengan tidak berpuasa). Bisa jadi di hari kedua dan ketiga ini ada acara-acara undangan, bisa jadi dia menjadi tamu mereka, dan mereka senang bila dia ada dan ikut menikmati hidangan mereka.

Maka perkara-perkara seperti ini; mementingkan silaturrahim dan membahagiakan kerabat, tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat keutamaan yang lebih afdhol dari amalan (puasa) sunnah.

Ada sebuah kaidah mengatakan: 
‘Jika ada dua keutamaan yang sama bertabrakan, dan salah satunya bisa dilakukan di waktu lain… maka hendaknya keutamaan yang bisa dilakukan di waktu lain diakhirkan’. Bahkan, silaturrahim tidak diragukan lagi termasuk diantara amalan taqorrob yang paling utama.

Di sisi lain, syariat telah melapangkan untuk para hambanya dalam puasa 6 hari Syawwal ini, dia menjadikannya ‘mutlak’ (tidak terikat), boleh dilakukan di seluruh hari bulan Syawwal, maka pada hari apapun puasa itu dilakukan di bulan Syawwal; ia dibolehkan selain pada hari ied.

Berdasarkan keterangan ini, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mempersulit dirinya dalam bersilaturrahim dan membahagiakan kerabatnya dan orang yang menziarahinya pada hari ied.

Oleh karena itu, hendaknya dia mengakhirkan puasa 6 hari Syawal ini, sampai setelah hari-hari yang dekat dengan ied, karena orang-orang membutuhkan hari-hari ied itu untuk menciptakan nuansa bahagia dan memuliakan tamu, dan tidak diragukan bahwa mementingkan hal itu akan mendatangkan pahala, yang bisa saja melebihi pahala sebagian amal ketaatan (puasa)…

[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’, 107/5]
(87)

Copas

_________________________________________
Dishare Ustadz DR. Firanda Andirja -hafizhahullah- Itsnain 2 Syawwal 1438 H / 26 Juni 2017

🌏 http://www.salamdakwah.com/artikel/4348-puasa-syawal-sebaiknya-tidak-di-pekan-pertama

Anda Bisa Jadi Juragan Kost, Begini Tips nya!

Dekost Indonesia, Bogor – Misalnya saya bertanya, Siapa yang mau menjadi juragan kost? Pasti Jawabanya semua orang ingin menjadi juragan kost. Siapa sih yang gak mau memiliki Usaha Kost yang mampu memberikan penghasilan yang sifatnya rutin dan jangka panjang.

 

Selain itu juga pengelolaan bisnis ini tergolong sangat mudah, namun di balik gurihnya bisnis kost kost-an, yang menarik untuk dibahas dalam bisnis ini yaitu pahala atau dosa yang senantiasa mengalir kepada pemilik kost atas aktivitas yang dilakukan oleh para penghuni kost tersebut, tapi pembahasannya akan dikupas tuntas di artikel berikutnya.

 

Untuk itu, bagi Anda yang ingin menjadi juragan kost harus mengetahui tips nya sebagai berikut :

  1. Niat yang kuat

Segala aktivitas apapun yang diawali dengan niat yang benar akan memberikan kekuatan bagi Anda yang ingin memiliki Usaha atau Bisnis. Coba deh Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, apa yang menjadi alasan Anda untuk menjadi Juragan Kost? Bila Anda sudah bisa menjawabnya maka segala upaya yang Anda miliki akan maksimal.

 

  1. Cara yang benar

Terkadang Niat yang kuat saja belum cukup untuk menjadi juragan kost yang sukses, bagi seorang muslim kita terbebani lima hukum. Yaitu : Mubah, Sunnah, Wajib, Haram dan Makruh. Pastinya kita akan memilih cara yang benar saat kita membeli kost kost-an atau membangunnya. Alhamdulillah Dekost Indonesia menjadi contoh Aprtemen Kos Syariah Moderen yang memberikan nuansa berbeda dalam dunia usaha Properti, lebih khususnya di bidang rumah kost.

 

  1. Memiliki Visi Dunia dan Akhirat

Sebenarnya keuntungan bagi kita yang memahami Agama Islam secara Kaffah pasti mengkaitkan seluruh aktivitas kita di dunia ini dengan aturan yang telah Allah tetapkan. Insya Allah bila para penghuni kost-an adalah Mahasiswa Muslim yang bertakwa atau mungkin mereka adalah para pengemban dakwah, bukan tidak mungkin pahala yang mereka kerjakan ketika berada dilingkungan kost akan sampai kepada Anda sang pemilik Kost atau juragan Kost.

 

(Admin Dekost Indonesia, NYL)