Properti Syariah antara Tantangan dan Hambatan : Semangat Anti Riba

Irfan Niawan | 5 September 2019   11:23 | Diperbarui: 9 September 2019   13:08

Sebelum masuk pada inti pembahasan, kiranya saya ingin mendahului tulisan ini dengan doa semoga bapak ibu pembaca sekalian senantiasa berada dalam lindungan dan keberkahan dari Allah Azza wa Jalla. 

Akhir-akhir ini, dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini setidaknya menurut pengamatan penulis, kehidupan properti di Indonesia diramaikan dengan adanya suatu konsep properti baru yang disebut Properti Syariah. Apa ini..?? Properti Syariah secara terminologi merupakan sebuah konsep properti baru dimana spirit melepaskan diri dari Riba dalam transaksi kepemilikan properti ini sangat kental terasa. Di beberapa tempat, konsep tanpa riba ini ditambahkan dengan “tanpa-tanpa” lain seperti tanpa sita, tanpa denda, tanpa akad bermasalah, dll yang memperkuat semangat anti riba tersebut. 

Slogan anti riba ini sendiri berangkat dari adanya sebuah semangat bersama sekelompok masyarakat untuk terhindar dari bahaya riba yang disebutkan dalam al-quran dan sunnah. Imam adz-dzahabi dalam kitab Al-Kabaair menempatkan perbuatan memakan harta riba sebagai dosa terbesar ke-12. Tentu tanpa bermaksud meringan-ringankan dibanding 11 amalan buruk diatasnya, namun secara jelas, riba merupakan salah satu dosa besar yang harus segera dihindari.

Dalam al-qur’an surah Ali-Imron : 130, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan.” Dalam al-qur’an surah Al-Baqarah, Allah memberikan perumpamaan bagi pelaku riba. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.”. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bersabda, “Riba itu memiliki 70 pintu. Yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menikahi ibunya sendiri. Sedangkan yang paling berat adalah seseorang yang senantiasa merusak kehormatan saudara Muslimnya.”(1)

Oleh karena betapa besarnya peringatan tentang riba ini, sehingga banyak kelompok masyarakat yang menaruh perhatian besar pada adanya potensi riba dalam sebuah transaksi properti, baik itu rumah tapak, rumah susun, kebun, dll. Semangat hijrah ini semakin menggeliat dengan banyaknya testimoni-testimoni orang yang berhasil keluar dari lilitan hutang riba dalam sebuah skema KPR Bank konvensional. Bukan hanya itu, aksi anti riba juga banyak dilakukan dalam bentuk menjual seluruh aset yang diperoleh dalam transaksi riba sebelumnya. Hal ini semakin menambah semangat masyarakat untuk memiliki property dengan cara syariah.

Semangat yang tinggi ini dan diiringi dengan adanya kebutuhan untuk segera memiliki hunian semakin menambah besar peluang bisnis properti syariah. Workshop-workshop bisnis yang mengulas metode bisnis jenis ini banyak bermunculan dalam bentuk komunitas-komunitas seperti: Developer Property Syariah (DPS) yang digawangi oleh Ust. Rosyid Aziz yang banyak menggarap proyek di Jabodetabek. Ada juga komunitas semisal bernama Developer Property Syariah Indonesia (DPSI) binaan Ust. Rudini yang banyak mengembangkan properti di wilayah jawa bagian tengah-timur dan indonesia bagian timur. Asosiasi Property Syariah Indonesia (APSI) yang dibentuk oleh Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) juga tak mau ketinggalan untuk membuat pelatihan-pelatihan ber-genre serupa. Seluruh komunitas ini — dan komunitas lain tentunya, yang belum dicantumkan dalam tulisan ini — memberi kontribusi positif dan atraktif dalam pengembangan industri properti syariah di tanah air. 

Masyarakat indonesia merespon positif adanya model kepemilikan properti seperti ini. Karena hampir semua pengembang alumni dari komunitas-komunitas ini menerapkan sistem pembayaran langsung ke pengembang tanpa melibatkan bank sebagai pemberi kredit (KPR). Meski ada sebagian dari pengembang tersebut tetap menggunakan KPR Bank, namun setidaknya pilihan jatuh kepada Bank Syariah, itupun dengan klausul yang tertuang dalam akad antara pengembang-bank-konsumen terlebih dulu sudah diverifikasi oleh verifikator internal komunitas tersebut, APSI misalnya. Sehingga potensi riba yang mungkin terjadi dapat diminimalisir semaksimal mungkin.

Dengan demikian kehadiran properti syariah sebenarnya bagi beberapa lapisan masyarat cukup membantu khususnya masyarakat yang secara kemampuan finansial dari kacamata perbankan (not bankable) tidak mampu secara ekonomis atau pernah masuk kedalam catatan hitam Bank Indonesia yang dalam kurun waktu tertentu tidak bisa mendapat kredit dari perbankan. 

Namun, disisi lain di pihak pengembang pun harus memiliki sistem filtrasi yang cukup bagus dan akurat untuk mengelola sistem ini, sebab alih-alih ingin membantu malah jadi buntu. Konsumen yang membeli produk properti tersebut memang sebenarnya saat ini sedang tidak cukup baik finansialnya. Sebab, ada 2 tantangan utama pengembang dalam konteks ini, yakni; arus kas terganggu yang sedianya menjadi jantung perusahaan dan sistem tanpa sita yang tidak memungkinkan si pengembang untuk melakukan ‘tekanan’ langsung kepada konsumen untuk segera menyelesaikan pembayarannya. 

Selain tantangan-tantangan lain, seperti; aspek legalitas, sosial masyarakat dan satu lagi yang tak kalah pentingnya dari aspek teknis, pengembang harus benar-benar memiliki personil maupun tim yang tangguh, mengingat harga bahan material dan upah sangat-sangat fluktuatif. Beda daerah beda harga, beda merk beda harga pula. Pun, di beberapa daerah tertentu tidak mudah untuk mendapatkan mandor maupun tukang yang bisa diandalakan kualitasnya. Sekalinya ada harganya pun berbeda. Faktor teknis ini juga kerap menjadi arena perdebatan yang cukup panjang antara pengembang dengan konsumen pada saat serah terima. Adanya perbedaan, baik antara gambar dengan di lapangan, maupun jenis material yang digunakan ini juga perlu diperhatikan sedari awal, agar seluruh pihak memahami spesifikasi teknis bangunan dari mulai yang terlihat sampai yang terlihat itu apa saja, seberapa besar, terbuat dari bahan apa. Jikapun ada jenis material yang rentan kosong atau sulit didapat, dijelaskan juga “setara” itu lingkupnya sampai mana, berkisar di merk mana saja jika merk utama yang dikehendaki tidak tersedia.

Sehingga, dengan demikian kehadiran properti syariah benar-benar muncul sebagai entitas bisnis yang Amanah dan Profesional.

Referensi Data: 

(1) https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/03/04/pnud1u458-betapa-besarnya-dosa-riba

Sumber:

https://www.kompasiana.com/irfan82930/5d708db50d823014cf6fe792/properti-syariah-antara-tantangan-dan-hambatan-semangat-anti-riba

Muslim Lifestyle Festival 2019 Siap Digelar di Jakarta, Ini Agendanya

KIBLAT.NET, Jakarta – Pameran industri syariah dan halal bertajuk Muslim Lifestyle Festival 2019 dan Islamic Tourism Expo 2019 yang pertama akan digelar di Jakarta Convention Center Agustus mendatang. Pameran ini akan menghadirkan berbagai kebutuhan hidup muslim, diantaranya tentang Islamic Education, Halal Lifestyle, Halal Food, Startup Syariah, dan lainnya. Acara ini digerakkan PT Lima Armada Utama (Lima Events) dan AMK Events.

Lia Indriasari selaku Direktur Lima Events mengungkapkan, acara ini ingin mengedepankan Islamic Industry dan Halal Lifestyle di Indonesia. Mereka ingin memberikan platform kepada masyarakat luas dan pemangku kepentingan juga kepada pebisnis di industri halal untuk bisa menunjukkan bisnisnya.

“Harapannya untuk memperluas networking dan sharing bersama untuk memajukan Islamic Industry dan Halal Lifestyle di Indonesia, itu mimpi besar kami. Kami buat sebuah platform yang bisa meng-cover seluruh industri halal di Indonesia. Pelan-pelan, perhatian masyarakat terhadap industri tersebut akan lebih tinggi,” ujar Lia di kantornya, Metropolitan Tower, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (20/05/2019).

Muslim Lifestyle Festival 2019 ini rencananya akan diadakan tepat pada awal tahun baru Hijriah tanggal satu Muharram, yang bertepatan pada tanggal 30 Agustus hingga 1 September 2019 di Assembly, Plenary, Cendrawasih, Main Lobby, dan Lower Lobby Jakarta Convention Center (JCC).

Lia menjelaskan beberapa sektor yang akan mewarnai Muslim Lifestyle Festival ini. Pertama adalah Islamic Education. Dalam eksebisi ini, nantinya pihak sekolahan akan menawarkan kualitas sekolahnya. Penyelenggara juga akan menghadirkan pihak boarding school, sehingga memudahkan pengunjung yang ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah asrama.

“Jika ada yang mencari sekolah boarding school, ada banyak dengan kualitas yang sangat bagus, dan sudah bekerjasama dengan universitas di luar negeri. Jadi acara ini memudahkan masyarakat yang masih bingung mencari sekolah untuk anaknya. Jika harus mendatangi langsung ke boarding school itu sendiri sangat jauh, nah jika kita adakan platform Islamic Education di sana, para orang tua yang ingin anaknya sekolah di boarding school bisa dengan mudah mendapatkan informasi,” ujarnya.

Selain itu ada juga Halal Food, dimana penyelenggara ingin menyampaikan pesan tentang esensinya. Lia melihat, saat ini banyak masyarakat awam tidak terinformasikan tentang pentingnya restoran yang berlabel halal.

“Banyak resto yang tidak tersertifikasi halal. Perhatian itu yang ingin kita timbulkan, karena kita merasa punya kewajiban memberitahukan hal tersebut,” ujarnya.

Muslim Lifestyle juga akan menghadirkan Startup Syariah, yang menurut Lia, itu sangat penting untuk memasuki dunia generasi milennial dan generasi Z.

“Ini yang harus kita bangun dari sekarang, dan jenis-jenis Startup Syariah sangat banyak dan kreatif, serta user friendly. Kita juga sedang mengusahakan kerjasama dengan Nussa dan Rara, karena itu sangat kreatif ya,” ujarnya.

Di tahun pertama ini, Muslim Lifestyle Festival 2019 juga akan mencoba One Day Trial Hijab, memberikan pengalaman kepada pengunjung wanita untuk mengenakan jilbab dari berbagai model, dari yang modernis, hingga yang memakai cadar.

“Kita akan adakan jilbab trial for a day. Itu dari jilbab modern dan juga sampai bercadar, merasakan bagaimana memakai cadar itu apa yang didapat, berbagai macam pilihan, ingin mencoba seperti apa rasanya. Kita ingin coba hal itu,” tukasnya.

Muslim Lifestyle Festival 2019 dan Islamic Tourism Expo 2019 akan menampilkan sekitar 500 jenis sektor industri syariah di Indonesia. Kegiatan ini juga menghadirkan produk multi-industri, talk show , dan workshop sebagai ajang edukasi masyarakat tentang gaya hidup halal di Indonesia serta berbagai hiburan menarik sebagai bagian dari selebrasi gelaran perdana Muslim Lifestyle Festival 2019.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy

Sumber : https://www.kiblat.net/2019/05/21/muslim-lifestyle-festival-2019-siap-digelar-di-jakarta-ini-agendanya/

Syahrini dan Luna Maya Sama-sama Jatuh Hati Pada Dunia Properti

Kedua artis Luna dan Syahrini masih hangat dari pembicaraan, tapi yang akan kita angkat bukan permasalahan asmaranya melainkan usaha yang dimiliki keuda artis tersebut. Luna maya dan Syahrini gak hanya cantik, tetapi sukses dengan bisnis yang mereka pegang masing masing loh, mereka memiliki kerajaan bisnis mulai dari kuliner hingga clothing line adalah salah satu jalannya.

Suami dari Reino Barack itu mengaku sebelum terjun di dunia hiburan sebagai biduan, dirinya sudah tertarik terjun ke bisnis properti sebagai investasi.

“Jauh sebelum jadi penyanyi, saya sudah dibekali orangtua, kalau mau menabung ya investasi rumah,” kata Syahrini usai tampil di acara ‘Satu Jam Bersama Syahrini’ di Saffron Show Unit, Sentul City, Bogor, Sabtu (16/12/2017).

Syahrini mengatakan, selama ini publik mungkin hanya tahu bisnis sampingannya di bidang kuliner (kue) dan parfum saja. Padahal sebelumnya Teteh Syahrini sudah terjun ke dunia bisnis properti.

“Itu (properti) silence bisnis saya. Nggak pernah saya publikasikan seperti kue dan parfum,” ucap penyanyi asal Kota Hujan itu.

Ia mengaku memliki usaha kos-kosan dan juga town house di kawasan Bogor dan Rawamangun.

Gak cuma itu aja, kini Syahrini juga membuka bisnis perumahan elit yang diberi nama Khayangan Residence.

Bisnis porperti Luna Maya

Luna Maya, saat ini diketahui merupakan aktris yang cukup sukses berada di bidang bisnis.

Terbukti dengan brand fashion-nya, Luna terus menerus memiliki omset meningkat dan membuat wanita 33 tahun ini nampak jarang berada di layar kaca.

Dilansir dari beberapa sumber Ia bahkan mengaku sudah mulai merambah bisnis properti.

“Lagi coba untuk ke properti sih. Tapi we’ll see, karena modalnya kan kalau properti lumayan gede,” ujar Luna Maya.

Wanita kelahiran Denpasar, Bali ini memilih bisnis properti, lantaran sang ibunda diketahui memiliki lahan kosong di Bali.

Meski begitu ia masih belum tahu akan menjadikan lahan teraebut sebagai villa, resort, atau hotel, lantaran hingga kini dirinya masih memiliki kendala pada unsur modal.

“Ada lahan tanah punya ibu di Bali yang enggak di apa-apain, jadi kita mau do something with it, jadi ya sudah, tapi lagi nunggu modal,” paparnya.

Artikil Asli